Curug Malela, Niagara Mini Indonesia

Pada tahun 2013 lalu, saat weekend terakhir menjelang puasa atau tepatnya pada hari Sabtu rasa bosan menyelimuti saya di pagi itu. Sekitar setahun lebih kosong dari aktivitas touring semenjak saya dirawat di RS karena penyakit maag kronis. Otomatis perasaan menggebu-gebu untuk kembali touring mengendarai motor kesayangan ke luar kota terlebih lagi beberapa hari kedepan akan masuk Ramadhan. Kontan saja tanpa pikir panjang lagi saya bulatkan tekad untuk pergi touring hari itu juga. Dan tempat yang saya putuskan untuk saya tuju adalah Curug Malela.

Curug Malela sering diistilahkan oleh para netizen sebaga Niagara Mini Indonesia, karena memang bentuknya yang mirip air terjun Niagara dalam skala yang kecil. Posisi Curug Malela berada di perbatasan Cianjur dan Kab. Bandung Barat. Bila mendengar posisinya yang berada di antara Cianjur dan Bandung Barat terkesan dekat dari Jakarta namun ternyata akses menuju kesana tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk menuju Curug Malela bisa diakses melalui Cianjur atau melalui Cimahi, Bandung. Saya memutuskan mengaksesnya melalui Cimahi, Bandung.

Setelah memantapkan tekad untuk touring hari itu juga, maka sekitar jam 10 pagi saya bertolak dari Jakarta memacu Honda Tiger Revo saya melewati Bogor, Puncak, Cianjur, Padalarang dan Cimahi. Sesampai di Cimahi, petunjuk jalan menuju Curug Malela sudah kelihatan yang mengharuskan saya belok ke kanan. Dalam benak saya, suatu tempat wisata bila dituliskan di petunjuk jalan di atas jalan raya berarti tempat tersebut mudah diakses dan banyak dikunjungi. Maka ketika melihat petunjuk jalan tersebut saya berpikir lokasi sudah dekat.

Namun setelah 2 jam berkendara dari Cimahi (termasuk satu jam macet-macetan karena berbarengan dengan pendukung Persib yang hendak ke stadion Jalak Harupat) lokasi yang dituju tidak kesampaian juga. Rasa lelah menghantui tubuh saya maklum karena kondisi belum 100% fit semenjak sakit dan akhirnya penyakit maag saya kambuh saat itu. Kepala pusing dan keleyengan dicampur rasa paranoid memaksa saya untuk menepi disebuah pom bensin mencari mushalla dan tidur sejenak. Selepas tidur kondisi sedikit membaik namun tidak cukup untuk membulatkan keberanian saya untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Cimahi, kebetulan disana ada rumah saudara saya yang kosong sehingga saya bisa beristirahat total menghabiskan malam, leyeh-leyeh serta mencari kuliner yang enak di Cimahi malam itu.

Pagi harinya badan terasa cukup fit untuk melanjutkan perjalanan, maka tekad mencapai Curug Malela pun kembali dilanjutkan pagi itu. Jalanan pagi itu di Cimahi cukup lengang sehingga riding begitu enak untuk dinikmati ditengah udara Bandung yang ada dingin-dinginnya. Istirahat sebentar di Cililin untuk nyabu (nyarap bubur) kemudian perjalanan dilanjutkan kembali terus melintasi terusan waduk Saguling, menelusuri jalan yang semakin lama semakin kecil menaiki gunung dan berkelok-kelok serta sudah tidak bisa dikatakan mulus lagi aspalnya.

945917_4964750965310_1619851478_n

Perkebunan teh Rongga

Sekitar 2,5 jam berlalu perjalanan tanpa kemacetan namun masih belum ada tanda-tanda berarti yang menunjukkan Curug Malela tinggal sepandangan mata, saya pun tiba di perkebunan teh Rongga. Dan akhirnya setengah jam lagi berkendara dari perkebunan teh tersebut tibalah saya di gerbang/gapura selamat datang Curug Malela. Akhirnya sampai juga pikir saya, namun ternyata alih-alih senang karena sudah tiba di tujuan justru dari gerbang selamat datang tersebutlah tantangan yang sesungguhnya dimulai untuk mengakses Curug Malela. Di gerbang selamat datang tersebut saya tidak dipungut bayararan sepeser pun untuk memasuki kawasan Curug Malela sekalipun disitu terlihat ada pos penjagaan namun tidak ada orang yang menjaganya, dari situ saja saya sudah melihat kejanggalan dari tempat wisata ini.

 

IMG00398-20130616-0944

Welcome gate Curug Malela

Sebagaimana disebutkan di atas, tantangan justru dimulai dari gerbang selamat datang. Yup setelah melewati gerbang ini jalur sangat tidak karu-karuan. Tanjakan, turunan disertai jalan yang hancur seperti habis di bom karena penuh kerikil dan batu-batu tajam. Kadangkala harus melewati jalanan tanah yang becek dan berlumpur, belum lagi harus berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut kayu. Sungguh ini bukanlah medannya motor Tiger sekalipun Tiger adalah motor penjelajah. Medan ini benar-benar off road dan cuma layak dilewati oleh motor-motor semisal Kawasaki KLX.

Setelah satu jam berkutat dengan perjalanan yang menantang tersebut, tibalah saya di penghujung jalan yang tidak bisa dilalui motor lagi, selanjutnya motor harus diparkir ditempat tersebut. Suasana disitu sangat sepi, hanya ada dua buah warung dan selain saya ada 3 motor Bajaj Pulsar 200 yang merupakan milik pengunjung lainnya. Motor pun saya parkir di depan warung sambil beristirahat dan bertanya-bertanya kepada pemilik warung tersebut.

1013676_4967493353868_1031284799_n

Dari tempat parkiran motor, untuk mencapai lokasi Curug Malela dibutuhkan berjalan kaki kurang lebih sejauh 1,5 km melewati persawahan dan sedikit semak. Setelah itu barulah kita tiba di Curug Malela, Niagara Mini Indonesia. Sayangnya ketika saya kesana saat itu sedang musim penghujan sehingga air cenderung keruh kecoklatan mengurangi keindahan Curug Malela sendiri.

malela

Tidak terlalu berlama-lama di Curug Malela, selanjutnya saya putuskan untuk kembali ke parkiran motor dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Setelah mengisi perut, saya pun bertolak menuju Jakarta namun kali ini saya memutuskan untuk tidak mengambil jalur Cimahi, tapi saya mengambil jalur yang langsung menuju ke Cianjur dengan harapan bisa memangkas jarak. Yup jarak memang terpangkas tapi waktu tempuh sama saja, hal ini dikarenakan jalan rusak yang harus ditempuh untuk bisa keluar ke jalan raya terusan Cianjur lebih panjang dan lebih hancur daripada jalan yang keluar menuju Cimahi.

Jalan keluar menuju Cianjur membelah hutan dan sangat hancur sekali, sangat berbahaya dikala hujan yang kebetulan saat itu pun sedang hujan, sehingga dua kali saya terjatuh dari motor sampai menyebabkan luka karena kaki saya menghantam bongkahan batu jalanan.

Butuh 2 jam melalui jalan hancur tersebut hingga akhirnya tiba di jalan raya dengan aspal mulus yang mengarahkan kita ke kota Cianjur untuk 1 jam perjalanan kemudian.

IMG_20160306_090941[1]

Kurcaci Backpacker Goes to Jogja

Kurcaci

Start dari Terminal Pinang Ranti

Well.. sudah sekian lama tak serius menulis atau melakukan guratan perjalanan di warung ini cukup membuat saya kangen untuk kembali aktif menulis, setelah sebelumnya hanya copy-copy paste saja.

Ok, tulisan kali ini akan mengisahkan backpackeran kami (Kurcaci Backpacker) ke Yogyakarta pada tanggal 26-30 Desember 2015. Dinamakan Kurcaci mungkin karena saya pergi backpackeran bersama 2 anak laki-laki saya (1 SMP dan 4 SD) dan satu keponakan saya (6 SD). Dan terus terang ini adalah pengalaman pertama kami ke Jogja, jadi kami cuma berbekal googling saja mencari penginapan dan destinasi-destinasi yang hendak dituju. Karena long holiday, cukup sulit mendapatkan penginapan di Jogja apalagi di sekitar Malioboro, tapi akhirnya kita bisa mendapatkan satu kamar yang masih kosong yaitu di Green Pearl Home Stay yang terletak di Jl. Mutiara/21 Gondokusuman dengan harga yang cukup murah untuk ukuran long holiday yaitu Rp 150.000/malam, posisi penginapan tersebut persis di belakang stasiun KA Lempuyangan. Sama halnya dengan penginapan, mencari ticket pergi pun cukup sulit. Rencana awalnya kami akan pergi menggunakan kereta namun karena tiket habis akhirnya kita pergi menggunakan bus, itupun cukup sulit mendapatkan tiketnya.

Kami berangkat dari terminal pinang ranti pada tanggal 26 Desember pukul 16.00 dan tiba di Jogja tepat waktu Subuh. Karena kami menggunakan bus jurusan Wonosari maka kami diturunkan bukan di terminal Giwangan, Jogja. Tapi di sebuah perempatan jalan raya yang bagi kami yang baru kesini entah dimana posisinya. Akhirnya kami mencari Masjid terdekat untuk Shalat Subuh dan istirahat sejenak. Setelah pagi agak terang saya mencoba mencari informasi dan ternyata kami berada beberapa km dari terminal Giwangan.

Candi Borobudur

Kami memutuskan untuk menuju Borobudur terlebih dahulu, dari Masjid tersebut kami menuju giwangan menumpang bus 3/4. Setelah sarapan di Giwangan kami menuju Borobudur menggunakan bus 3/4 yang langsung menuju terminal Borobudur dengan ongkos 20.000/kepala selama 2 jam. Sesampai disana Borobudur sudah ramai oleh para wisatawan dan cucaca cukup panas, kami pun membasuh dahaga rasa ingin tahu akan sebuah candi yang menjadi salah satu keajaiban dunia tersebut.

Setelah puas keliling Borobudur sampai lelah kami memutuskan kembali ke Jogja menuju penginapan yang sudah kami pesan di Jogja. Alih-alih bisa cepat sampai di penginapan karena sudah sangat lelah ternyata kami harus berkutat dengan panasnya bus kota, kemacetan dan keliling-keliling Jogja. Hal ini dikarenakan kami tidak diturunkan di terminal Giwangan tapi di terminal lain (lupa namanya), dari situ kami lanjut menggunakan Trans Jogja yang membuat kami muter-muter Jogja untuk sampai penginapan menjelang maghrib. Syukurnya tempat penginapan tersebut sangat nyaman, bersih dan luas sehingga kami bisa melepas lelah dan tidur nyenyak.

1914942_10205299576637670_2943262589085601228_n

Hari kedua di Jogja, tempat yang akan kami tuju hari ini rencananya adalah Prambanan, Alun-Alun dan Masjid Keraton serta Malioboro. Belajar di hari pertama dimana waktu kami lebih banyak habis di jalan menggunakan bus maka menurut kami untuk menuju tempat-tempat tersebut menggunakan bus dalam satu hari adalah mustahil. Berbekal googling saya mencari penyewaan mobil namun sayangnya sudah rented-out semua, akhirnya beralih ke motor dan alhamdulillah dapat meski cukup sulit juga. Sebuah Honda Beat pun dikirim ke penginapan kami, tandatangan perjanjian, berikan jaminan serta uang sewa seharga 75 ribu/hari siaplah kita untuk keliling Jogja dengan motor.

10343026_10205307584237855_3120787079273353518_n

Istana Ratu Boko

Butuh waktu bermotor 30-45 dari penginapan kami menuju komplek Candi Prambanan. Sesampai disana wow sudah padat oleh pengunjung sampai tiket box untuk sementara ditutup. Setelah dibuka kembali kami memutuskan membeli tiket paket Prambanan-Ratu Boko seharga 50 ribu/kepala. Tadinya saya pikir Istana Ratu Boko berada satu komplek dengan Candi Prambanan ternyata kami harus diantar dengan shuttle bus keluar dari komplek tersebut yang membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit.

Situs Istana Ratu Boko adalah reruntuhan Istana yang dijadikan tempat tinggal Ratu tersebut. Menjelajahi situs tersebut terbayang betapa megahnya istana tersebut pada masa kejayaannya.

Candi Prambanan

Sekembali dari Istana Ratu Boko, kami menjelajahi situs Candi Prambanan. Menurut saya situs candi Prambanan lebih megah dan indah dibanding Candi Borobudur dan nilai seni atau artistiknya pun lebih sedap dipandang, tapi mengapa ya yang dijadikan salah satu keajaiban dunia itu malah Borobudur. Mungkin ada nilai sejarah dan teknis yang ahlinya lebih mengetahui dari saya.

20151228_182800Puas berada di Candi Prambanan, kami menuju daerah Kraton Yogya dimana selain kraton terdapat juga alun-alun dan Masjid kraton, sayangnya setibanya disana kami tidak menemukan suasana retro melankolis yang saya harapkan. Mungkin kebetulan baru saja selesai acara pasar kaget di sekitar kraton sehingga suasana terlihat begitu kumuh dan padat di sore hari itu. Kami pun shalat dzuhur-ashar di masjid Kraton dan sambil istirahat menunggu waktu Maghrib, setelah itu barulah kami akan menuju Malioboro menikmati suasana malam di pusat keramaian Jogja.

Malioboro

Yang saya harapkan ketika berada di Malioboro pada malam hari adalah merasakan suasana yang Katon Bagaskara rasakan ketika ia menggugah lagu Yogyakarta dengan syahdunya. Namun pada malam itu suasana Malioboro begitu ramai, padat dan macet ditambah lagi jarang sekali saya menemukan makanan-makanan tradisional Jogja di daerah tersebut, semuanya hampir sama saja dengan Jakarta. Saya pun tidak tertarik berlama-lama disana ditambah lagi badan sudah lelah sehingga memutuskan untuk kembali penginapan dan beristirahat untuk esok.

20151228_19225520151228_193851

Hari ketiga di Jogja, kali ini kami memutuskan untuk mencari suasana pantai dan tentunya pantai favorit saya adalah yang berpasir putih. Maka pagi itu kami berangkat menuju daerah Gunung Kidul sejauh 1,5 jam berkendara dengan motor.

kidul

Pantai Indrayanti dan Pok Tunggal

Pantai yang pertama kami temui adalah Pantai Indrayanti, sebuah pantai yang cukup luas berpasir putih, terdapat bukit kecil yang bisa kita daki disana untuk bisa melihat pemandangan pantai dari atas.

Tidak jauh dari pantai Indrayanti kita akan menemukan pantai Pok Tunggal yang juga berpasir putih. Dari pagi hingga sore hari kami menghabiskan waktu di gunung kidul. Anak-anak berenang sedangkan saya sepanjang hari tiduran di atas pasir pantai bertelekan tikar dinaungi payung. Disinilah saya merasakan refreshing yang sebenarnya selama berada di Jogja.

Bukit Bintang

Sekembali dari pantai kami mampir di bukit bintang untuk makan malam dan menikmati suasana pegunungan. Bukit Bintang adalah puncak Gunung Kidul, dari situ kita bisa melihat kota Yogyakarta dari atas. Suasananya hampir mirip dengan suasana Puncak, Bogor dengan skala yang lebih kecil dan suhu yang tidak sedingin Puncak. Well cukup nyaman sebenarnya menikmati malam disana sambil memandangi kota Jogja dari kejauhan. Namun karena khawatir anak-anak mengantuk dan perjalanan juga masih cukup jauh kembali ke penginapan maka saya putuskan untuk tidak terlalu berlama-lama disana.

Hari keempat atau hari terakhir berada di Jogja, saatnya mencari oleh-oleh dan persiapan pulang. Kami akan kembali menuju Jakarta menggunakan kereta pada pukul 17.00 dari stasiun Tugu. Selain mencari oleh-oleh tradisional seperti Bakpia dll, ada satu spot yang membuat kami tertarik adalah Chocolate Monggo. Outletnya terletak cukup terpencil di sebuah gang dekat Masjid Sunan (apa ya, lupa). Namun setelah sampai di outlet tersebut ternyata cukup mewah dan modern bahkan ada pabriknya juga disitu sehingga kita bisa melihat proses pembuatan coklat tradisional Jogja dengan citarasa Belgia ini.

Monggo

House of Raminten

Check out dari penginapan di siang hari menuju stasiun Tugu, kami sempatkan terlebih dahulu makan siang di House of Raminten. Sebuah rumah makan legendaris dan fenomenal di Jogja. Ketika sampai di restoran tersebut kami tidak bisa langsung menyantap makanan karena penuh sekali dan harus mendaftar sebagai waiting list. Karena penasaran kami relakan menunggu hingga satu jam untuk mendapat giliran duduk di dalamnya. Suasananya nyaman karena duduknya pun lesehan. Soal rasa tak menyesal, disinilah saya merasakan cita rasa kuliner Jogja yang sebenarnya dan ternyata harganya pun sangat murah untuk sekelas restoran terkenal. Kami berempat memesan gudek, nasi goreng dan makanan tradisional lainnya serta aneka minuman hanya menghabiskan sekitar 150 ribu rupiah, fantastis dan memuaskan.

Setelah puas menikmati hidangan tradisional di House of Raminten, tibalah saatnya kami benar-benar harus kembali ke Jakarta menempuh perjalanan delapan jam dengan kereta kami pun tiba kembali di Jakarta pada pukul 01.00 dinihari. Alhamdulillah.

Kalimat Indah Dr. ‘Aidh al Qarni

اقرأوا و عوا:

عبارة جمیلة للدكتور عائض القرني ـَـَََـَ     

         نحن لا نملك تغییر الماضي
            و لا رسم المستقبل ..
         فلماذا نقتل انفسنا حسرة
        على شيئ لا نستطیع تغییره؟

  الحیاه قصیرة وأهدافها كثيرة
             فانظر الى السحاب
           و لا تنظر الى التراب ..

           اذا ضاقت بك الدروب
             فعلیك بعلام الغیوب
      و قل الحمدلله على كل شيئ

سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص
وسفينة ( نوح ) بناها شخص واحد
  الأولى غرقت والثانية حملت البشرية

     التوفيق من الله سبحانه وتعالى

       نحن لسنا السكان الأصليين
          لهذا الكوكب الأرض !!
       بل نحن ننتمي إلى ( الجنّة )
           حيث كان أبونا أدم
            يسكن في البداية
           لكننا نزلنا هنا مؤقتاً 
        لكي نؤدّي اختبارا قصيرا
            ثم نرجع بسرعة ..

فحاول أن تعمل ما بوسعك
لتلحق بقافلة الصالحين
التي ستعود إلى وطننا الجميل الواسع
و لا تضيع وقتك في هذا الكوكب الصغير

الفراق: ليَس السفِر، ولا فراق الحب، حتىّ الموت ليس فراقاْ
سنجتمَع في الآخره
الفراق هو: أن يكون أحدنا في الجنه،
والآخر في النار

جعلني ربي واياكمَ من سكان جنته..

والحياه ما هي إلا قصة قصيرة !!
( من تراب .  تراب . إلى تراب )
( ثم حساب . فثواب . أو عقاب )

فعش حياتك لله – تكن أسعد خلق ﷲ
اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم  سلطانك
Bacalah dan simak!

Kita tdk bisa merubah yg telah terjadi
Jg tdk bisa menggariskan masa depan
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dgn penyesalan?
Atas apa yg sdh tdk bisa kita rubah

Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
Maka, tataplah awan dan jgn lihat ke tanah

Kalau merasa jalan sdh sempit,
kembalilah ke Allah yg Maha Mengetahui yg gaib!
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja.

Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang
Sedang kapal nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang

Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia

Taufik hanya dari Allah swt

Kita bukanlah penduduk asli bumi,
asal kita adalah surga
Tempat, dimana org tua kita, Adam, tinggal pertama kali.
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara,
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.

Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah org2 salih,
Yang akan kembali ke tanah air yg sgt luas
Jgn sia2kan waktumu di planet kecil ini..!

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yg jauh,
Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan,
sebab kita pasti akan bertemu di akhirat.

Perpisahan itu adalah,
Jika salah satu diantara kita di surga dan yg lain di neraka.

Semoga Allah swt menjadikan kita semua sebagai penghuni surga!

Hidup ini adalah cerita pendek,
dari tanah, di atas tanah, dan kembali ke tanah,
Lalu hisab (yg hanya menghasilkan dua kemungkinan); pahala atau siksa.

Maka, Hiduplah utk Allah niscaya kau akan jadi makhluk-Nya yg paling bahagia.

Ya Rabb utkmu segala puji yg layak utk kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasan-Mu!

Tentang Sebuah Rasa

image

Sebuah tata nilai yang tak adil, yang telah berakar dalam persepsi kultur dan budaya, bersumber dari gengsi dan egoisme serta memilah-milah dari mata air agama yang suci, seraya akan berkata; kamu seharusnya tak begini atau begitu. Namun disini nuraniku bersuara.

Tak ada yang menyuruhmu terlihat begitu indah. Tak ada yang memaksaku menabur rasa sebagaimana tak ada yang menghalangiku untuk menuainya menjadi senyuman yang penuh makna, pandangan yang tendensius atau sikap yang berbunga. Semua datang begitu saja sebagaimana sebuah pertemuan tanpa rencana.

Lantas siapa yang telah mengaturnya. Adalah bodoh untuk mengatakan bukan Tuhan. Lalu apakah kami harus menyalahkan Tuhan, tidak!!!

Ya kami akan bertoleransi terhadap ketidakadilan kalian, namun biarkan kami tetap menanam dan memupuk sebuah rasa yang suci sambil memandangi takdir Tuhan dan mencoba berjalan diatasnya.

Dan ketika Tuhan berkehendak kebaikan bagi kami, maka kalian dengan segenap sumpah serapah pun tak pernah memiliki arti lagi.

Kesia-siaan

img00005-20110615-0926.jpgKamu tahu sayang, bukan kehilanganmu yang terasa begitu menyakitkan. Betapa cinta suci yang membara oleh fitrah adalah kekuatan besar yang mengalir di nadi jiwa, mata air bahagia, inspirasi dan kedamaian. Karenanya ku rela mengurai benang-benang takdirku, berontak dan melawan. Ku rela mengalir dalam penantian yang tak pernah kutau muaranya. Namun mengapa pada akhirnya kuhanya berada di pusaran dan semakin tenggelam sedangkan waktuku sudah tak lama lagi.

Kamu tahu sayang, bukan nelangsa hati karna kepergianku darimu yang kuratapi. Tapi sosok-sosok suci, lembut dan tulus yang kubiarkan menjauhiku karena buta mataku oleh racun semumu. Memaksaku mempercayai apa yang tak kupercaya. Bahwa karma telah menaungiku bersama awan hitam dan lorong kelam.

Kamu tahu sayang, bukan sayang sungguh disayang untuk menghapus wajah indahmu dalam pahatan hatiku yang membuat air mataku kering. Tapi seakan tak bisa dipercaya bahwa perjalanan panjang selama ini di atas duri, menerjang ombak dan menembus badai tetap saja ku berdiri untuk berkata aku cinta, aku rindu dan aku sayang. Tapi sekedar titik cahaya di lorong purnama pun tak dapat kulihat.

Tapi sudahlah sayang, semuanya memang harus dihentikan sebelum waktuku benar-benar habis. Nelangsa dan kehancuran hati ini tidak ada artinya dibanding meratapi kesia-siaan sebuah perjuangan dan jatuh bangun perjalanan menggapai sebuah cita-cita dan angan. Sekalipun ku tak bisa menjejal persepsi kau salah, maka persepsi itulah yang harus ku telan sendiri dari sosok-sosok suci, lembut dan tulus itu.